Skip to main content

follow us

"Manusia yang membuka pintu sekolah itu, menutup pintu penjara!" - Victor Hugo

Percayalah kawan kita tidak sedang membahas tentang “Isme” (sebuah paham) dalam artikel ini, setidaknya belum ada rencana.

Is..?!” hanya sebuah bunyi yang diucapkan untuk menegaskan dan menambah dramatis sesuatu yang diungkapkan dalam gimmick tubuh (tepatnya wajah) sebagai respon (upah dalam pandangan anak) untuk sesuatu yang berhasil dilakukannya.

Gimmick wajah saat mengucapkan "Is..?!" (harus) dengan bola mata dibesarkan dan (harus) tampak berbinar, dengan senyum sumringah yang (harus) terlihat alami - itu karena ia harus benar-benar tampak sebagai ekspresi kekaguman, ketidakpercayaan kalau si anak ternyata bisa melakukannya.

Baca juga : Badai Ufuk Timur Purba - Polemik Arti Sebuah Nama

Awal cerita,

Putri saya (anak pertama) yang (saat itu) berumur 3 tahun, sedang getol-getolnya bermain Puzzle. Jadi, ketika ikut bapaknya kemana aja selalu minta dibeliin Puzzle.

Saya pribadi tidak melarang karena untuk ukuran permainan, Puzzle memenuhi kriteria sebagai mainan yang mengandung unsur pendidikan, untuk jenis permainan ini aspek pendidikannya adalah pengembangan kemampuan problem solving (penyelesaian masalah).

Di awal ketertarikannya, dia cukup senang dibelikan Puzzle berbahan kertas daur ulang. Masalahnya hanya bisa digunakan beberapa kali setelah itu biasanya rusak, sobek, terkelupas, kena tumpahan air. Bahkan tanpa faktor insidentil itu pun Puzzle kertas ini memiliki masa berlaku yang sangat singkat. Karena setelah beberapa kali dipakai segera ia akan tampak kusam dan tidak lagi menarik.

Saya pun berinisiatif membelikannya Puzzle berbahan kayu, bukan saja karena lebih nyaman digunakan, Puzzle berbahan kayu juga tampak lebih elegan bahkan untuk sebuah mainan. Seperti perkiraan saya, putri saya pun senang tiada terkira. Motivasi dalam menyusun Puzzle pun naik level.

Yang jadi masalah kawan, setiap kali ia berhasil menyusun semua kepingan Puzzle secara sempurna ia membutuhkan sebuah apresiasi atas keberhasilannya itu.

Jangan kira ia merasa cukup jika hanya diberi pujian “Wiih bagus lho nak”, “Hebat”, “Wah kamu pintar”, tidak kawan, apalagi kata-kata pujian tersebut dilontarkan dengan sangat standar (sambil lewat misalnya).

Apresiasi yang diinginkannya harus terlihat 'lebih' ; lebih takjud, lebih kagum, lebih tidak percaya bahkan harus lebih dramatis.

Jika situasinya sedang santai hal itu bukan masalah besar karena sangat mudah bagi orangtuanya untuk mengekspresikan kebutuhannya itu karena sejatinya itu hanya sebuah gimmick.

Tentu menjadi masalah jika ibunya sedang dalam kondisi memasak di dapur.
Catatan ; putri saya lebih suka menunjukkan prestasinya itu kepada ibunya daripada saya bapaknya, ini bukan masalah identifikasi gender kawan tapi karena ibunya dianggap lebih jujur ketika menunjukkan rasa kekaguman

Bayangkan kawan pada saat ibunya sedang sibuk menangkis serangan minyak yang berhamburan keluar dari penggorengan karena dicemplungin ikan basah dengan sendok goreng dan kondisi mata yang dibuka seminimal mungkin, ia justru dipaksa harus melotot takjud dan tersenyum sumringah sementara otot diwajahnya justru mati-matian bertahan untuk mengernyit (itu lho...melipat untuk mengumpulkan sebanyak mungkin bagian kulit wajah demi untuk melindunginya), ditambah lagi harus mengucapkan “Is..?!” untuk memberi efek dramatis.

Yang terdengar bukan rasa takjud kawan tapi cemas karena dipropokasi oleh bunyi letupan minyak yang semakin gak karuan dari penggorengan

Hebatnya lagi, putri saya bisa merasakan dan akan tetap di posisinya jika ekspresi kekaguman ibunya tidak memenuhi standar kepuasan dirnya. Dia akan meminta untuk diulang “Eee...gak kek gitu”, "Is.. lagi" begitu ia meminta.

Maka bersamaan dengan serangan minyak penggorengan yang mulai mereda ibunya pun mengumpulkan semua kualitas seni peran yang ia punya untuk melakukan sesi ungkapan kekaguman untuk kedua kalinya.

Putri saya pun senang dan kembali ke ruang tengah untuk membongkar lagi mainan Puzzlenya dan mulai menyusun ulang dari awal.

Dari tempat saya duduk saya berujar setengah berbisik ke istri saya “cepat selesaikan masakanmu sebentar lagi Puzzlenya bakal selesai disusun lagi

Hidup putriku, kasian ibunya

Baca juga : 1 Ruang, 4 Hati, 2 Asa - Catatan Di Ulang Tahun Deeva Janeeta Purba

Konsep ini sebenarnya bukan hal baru kawan, istilah akademis aja yang kita tau belakangan setelah kuliah atau setelah membaca buku tentang perkembangan anak, mungkin juga buku psikologi, yang disebut dengan kata 'reinforcement' (penguatan) sementara kebalikannya adalah 'punishment' (hukuman).

Bahkan orangtua kita dulu telah mempraktekkannya. Ingat ketika kita diberi upah uang jajan, atau pujian untuk suatu hal baik yang kita lakukan, atau menerima hukuman tidak dikasih uang jajan, kena marah atau gak dikasih makan (yang ini jangan kawan urusannya nanti sama Komnas Perlindungan Anak hehehe....)

Skinner dan para pendahulunya kemudian yang mengembangkan studi perilaku ini yang ngetop dengan nama aliran Behavioristik (Behaviorisme). Walaupun banyak yang mengkritik pendekatan ini dalam pendidikan untuk berbagai kondisi saya pikir masih efektif sesuai tahapan perkembangan dan kebutuhannya.

Karena artikel ini sejak awal bercerita tentang anak dan ibunya maka kita sudahi aja tentang Skinner-nya, artikelnya juga.

Salam !

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar