Skip to main content

follow us

Mulut diciptakan sebagai alat komunikasi, dan tidak ada yang lebih mampu menjelaskan selain sebuah ciuman” – Jarod Kintz

Masih ingat bagaimana Mary Jane Watson ingin mengetahui apakah Peter Parker (si manusia laba-laba) – benar-benar mencintainya atau tidak? Ya, dengan ciuman, Mary Jane meminta Peter Parker menciumnya.

Dan teman, lebih dari 90 persen manusia melakukan ritual ini : putting faces together and trading spit. An experience we called kissing, sepotong kegiatan yang kini kita anggap aktivitas romantisme.

Namun, ciuman - apalagi yang pertama - ternyata bisa menjadi malapetaka.

Baca Juga : Cara Teruji Mempertahankan Hubungan Jarak Jauh

Menurut studi dari eHarmony, satu dari lima wanita Australia rela putus cinta karena ciuman pertama yang buruk dari pasangan. “Ciuman dan kecupan sangat berarti untuk wanita karena itu merupakan ekspresi emosional,” jelas Katia Loisel, seorang pakar bahasa tubuh dan hubungan.

Ciuman pertama yang gagal menurut Katia Loisel mampu memicu tombol ‘turn off’ dalam diri pasangan!. “Wanita sangat mempercayai perasaan dan suara hati. Jadi, jika ada pria yang hanya ingin bersenang-senang tanpa tujuan, wanita bisa mengetahuinya dari ciuman pertama tersebut,” terangnya.

Fakta ini menunjukkan terdapat perbedaan yang sangat signifikan terkait respon pria dan wanita saat melakukan kissing - khususnya ciuman pertama.

Pria berpikir vs wanita merasa, pria mendekati vs wanita menerima, pria memutuskan berdasarkan kenyataan dan pengalaman vs wanita memutuskan berdasarkan emosi/perasaan dan harapan, pria mengatakan suka/cinta vs wanita menguji untuk melihat apakah pria menyukai/mencintainya atau tidak.


Pria menyatakan kalau ia butuh si wanita vs wanita  membuat si pria sebagai sosok yang dia butuhkan, pria menuntun vs wanita mengikuti, pria butuh sex vs wanita dengan sex ia juga menuntut komitmen, pria berpikir sex adalah tubuh/fisik vs wanita berpikir sex adalah tentang emosi/rasa dan pria tidak berpikir vs wanita berpikir untuk melakukan.

Kembali ke petaka ciuman pertama, Gordon Gallup, dalam jurnal Evolutionary Psychologist dari University of Albany menjelaskan bahwa 59 persen laki-laki dan 66 persen perempuan yang menjadi responden risetnya mengaku bahwa mereka akan mengakhiri hubungannya dengan pasangan karena BAD KISS.

Selain itu, dalam studinya Katia Loisel juga menemukan bahwa wanita memiliki standar tinggi mengenai kualitas kontak fisik dengan pasangan. Berdasarkan penuturan Loisel, wanita lebih selektif mengenai kualitas dan pemenuhan kebutuhan seksual.

Antropolog dari Rutgers University bernama Helen Fisher juga menegaskan bagaimana sebuah ciuman punya tugas khusus untuk memenuhi tiga kebutuhan esensial ini: sex drive, romantic love, dan attachment. Romantic kissing membantu manusia untuk “find partners, commit to one person, and keep couples together long enough to have a child.”

Caranya? Reaksi biologis dalam passionate kiss, jawabannya. Riset menunjukkan bahwa ciuman mampu mendorong keluarnya neurotransmitter seperti dopamin (yang terlibat dalam hasrat dan keinginan) dan serotonin (which elevates mood and can help spark obsessive thoughts about a partner). 

Ciuman juga terbukti meningkatkan jumlah oksitosin, the so-calledlove hormone”, yang berperan sebagai trigger atas ikatan antar pasangan. Ketiga zat kimia itu jugalah yang bertanggung jawab atas gejala yang kita sebut jatuh cinta!

Dalam hal ini perspektif tentang cinta terus berevolusi. Hubungan seksual memberikan dampak lebih banyak pada wanita, wanita bisa hamil dan memiliki anak dari hubungan itu. Jadi, masuk akal saja jika kualitas intimasi fisik menjadi pertimbangan wanita.

Secara saintifik, ini rupanya ada alasannya indera penciuman mungkin bertanggung jawab untuk memberi petunjuk pada bawah sadar tentang kualitas reproduksi atau DNA orang lain. 

Biologis Claus Wedekind menemukan, perempuan sangat tertarik dengan bau laki-laki yang memiliki sistem imun dengan kode genetis amat berbeda dari miliknya. Mungkin karena keberagaman genetis dipercaya akan menciptakan keturunan yang lebih sehat dan lebih mampu bertahan hidup. 

Wah, ciuman pertama pun diam-diam bisa menyulut petaka! 

Dalam sebuah studi mengenai smooching styles, laki-laki juga terbukti lebih sering memulai kontak lidah saat berciuman; lebih menyenangi french kissing daripada a closed-mouth pecks (you know-lah). Ini karena saliva, menurut penelitian, mengandung pula sejumlah besar hormon testosteron. 

Oleh sebab itu, secara tidak sadar, laki-laki berusaha mentransfer testosteron untuk memicu hasrat seksual perempuan.  “Dalam air liur seseorang - selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun - jumlah jejak testosteron dalam air liur laki-laki dapat meningkatkan kadar testosteron dalam laki-laki dan karena itu meningkatkan penerimaannya dan libidonya” kata Gallup.

Tak heran, laki-laki lebih sering memanfaatkan ciuman untuk membuat diri mereka kelihatan menarik di hadapan perempuan yang disukainya. 

Sementara itu, perempuan justru menggunakan ciuman sebagai mate-assessment device alias alat uji kelayakan pasangan. 

Iya deh kakak!

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar