Skip to main content

follow us

Pernah mengalami hal yang seperti judul diatas? Saya rasa sebagian besar dari anda pernah atau bahkan ada yang sedang mengalaminya.

Beberapa bulan yang lalu seorang teman tiba-tiba menelpon dari Sumbar, awalnya saya pikir karena sudah lama tidak bertemu, pengen tau kabar. Tapi setelah sesi ‘tanya kabar’ selesai barulah dia bercerita kalau saat ini - sebenarnya dari beberapa bulan lalu - ada seorang wanita yang sedang dekat dengan si teman saya ini.

Dekat dalam artian bukan lagi sekedar teman semata....lebih dari itu, sehingga cukup bagi dia alasan untuk berbagi...bukan...bertanya...juga bukan. Lebih tepatnya curhat karena curhat sebenarnya setengah berbagi setengah bertanya....,

Sesuatu yang mungkin jadi tema curhatannya kira-kira adalah apa yang akan dilakukannya pada si wanita tersebut - yang menurut teman saya ini udah ‘ngebet banget’ sama dia.

Tentu saja ini tidak aneh jika teman saya ini masih jomblo, masalahnya dia sudah menikah, udah punya anak pula. Gawat? Enggak juga...tinggal kasih tahu aja kalo dia udah nikah pasti tu cewek bakal pergi.

Berarti bakal gawat kali dua, karena si teman saya ini udah ngasih tau kalau dia udah menikah.

Bukannya pergi, justru dalam waktu dekat si cewek ini bakal datang menjumpai si kawan kita ne ke Sumbar. Gila gak? (masih) Gak juga...biasanya aja.

Iya juga sich, Kan kejadian begini gak cuma teman saya ini yang ngalamin, jauh sebelumnya saya udah sering mendengar kejadian serupa dialami orang.

Pertanyaan saya cuma satu, mungkin pertanyaan yang sama yang membuat si kawan dari Sumbar ne merasa perlu mengkonsultasinya dengan saya yang (sayangnya) bukan ahlinya hehehe....,

Kenapa kejadian seperti ini seringkali atau selalu terjadi pada saat anda atau teman saya itu telah punya pacar atau punya istri. Mbok ya tawaran begini datang pada saat kita masih jomblo...kan gak gelisah, galau, merana.

Penjelasannya menurut versi saya cuma satu, tentu saja ini cuma asumsi saya. Masalah konsepnya nanti ilmiah ato enggak kita sama-sama nunggu aja ada yang melakukan penelitian tentang hal itu.

Bukankah sebuah penemuan ilmiah pun - apalagi bidang humaniora - dibangun berdasarkan asumsi.

Fenomena tersebut diatas merupakan efek dari energi positif dalam diri yang proyeksikan ke dunia yang dirasakan orang lain sebagai sensasi yang positif.

Ketika seseorang (telah) memiliki pasangan apakah itu pacar atau istri atau bahkan keduanya. Hayo ada diantara anda yang punya dua-duanya ? Wah jangan, jangan sungkan untuk berbagi maksudnya weka weka weka !

Energi positif dalam diri yang anda proyeksikan keluar dari diri anda...akan dirasakan orang-orang disekitar anda atau orang-orang yang kebetulan terkoneksi dengan anda sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Dan efeknya tidak hanya dapat dilihat melalui wajah secara langsung tapi juga dapat dirasakan dalam bentuk getaran suara ketika berbicara dengan orang lain.

Bagaimana energi postif ini bisa bekerja ketika seseorang punya pasangan dan cenderung tidak bekerja pada saat seseorang tidak punya pasangan, tanya anda.

Begini, energi postif ini muncul jika anda merasa berharga (bagi seseorang, biasanya pacar, istri atau anak).

Energi ini juga muncul jika eksistensi anda diakui (oleh seseorang, biasanya pacar atau istri).

Energi ini juga muncul jika anda merada beguna (bagi seseorang, biasanya pacar, istri atau keluarga).

Energi ini juga muncul jika anda merasa bahagia (ketika melihat seorang yang berharga bagi anda bahagia, biasanya pacar, istri atau anak-anak anda)

Lihat, betapa semua alasan diatas lah yang memungkinkan keberadaan energi positif tersebut muncul, dimana semua motif tersebut relatif tidak muncul ketika seseorang masih jomblo.

Tapikan masih ada saudara, orangtua, keponakan yang kita sayangi dan berharga bagi kita? Anda protes. Benar, tapi tidak sekuat motif mencintai pada pacar, istri atau anak.

Belum adanya figur-figur penting dan berharga tersebut bagi yang masih jomblo menjadi alasan kenapa energi postif yang ada dalam diri anda belum efektif dalam memberikan sensasi menyenangkan bahkan membahagiakan bagi orang lain.

Jadi, untuk yang masih jomblo tetap berjuang

Hidup Jomblo !

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar