What’s in a name ? That which we call a rose by any other name would smell as sweet - William Shakespeare
Ya, kata Shakespeare - apalah arti sebuah nama ? Andaikata kamu memberi nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi (mawar).
Kenapa saya membuat catatan ini ? Karena setiap kali orang menanyakan nama anak kedua saya, reaksi mereka cenderung berlebihan
“Waduh berat kali namanya?!” Trus gimana orang-orang bule di luar sana yang pake nama Yesus atau Isa? Yang muslim anak laki-laki sering dikasih nama Muhammad, gak ada tuch yang ngerasa kecape’an kalau itu memang berat.
“Koq dikasih nama kek gitu? Nanti dia malu!” Orang bangga tuch ketika nyebutin nama Badai ‘Krispati’, ponakan tukang gorengan dekat rumah saya namanya “Langit Cakrawala Senja” nah lho....malu? keren malah cuy.
“Badai itu kan artinya sesuatu yang gak bagus!” Tergantung, kalo orang mengartikan secara harfiah aja - angin dengan kekuatan maha dasyat yang menghancurkan apa aja yang dilewatinya.
Ya, tapi,
Coba terjemahkan secara filosofi-psikologis - badai diranah wacana pemikiran misalnya, bukankah kita bisa diterjemahkan sebagai badai pemikiran dengan ketajaman analisis dan penjelasan ilmiah yang menghancurkan ide-ide absurd yang tidak mendasar tapi dipercaya.
Tapi jujur, bahkan istri saya (sempat) sedikit terpengaruh, sewaktu anak kedua saya ini demam naik turun sampai beberapa hari, dia bilang “Jangan-jangan karena namanya...?”
Saya langsung protes “Hus....mitos dipercaya”
Baca Juga : 1 Ruang, 4 Hati, 2 Asa - Catatan Di Ulang Tahun Deeva Janeeta Purba
Klimaksnya ketika tiba hari dimana anak saya ne dibaptis, saat itu jumlah orangtua yang membaptiskan anaknya ada lima....dan anak saya di urutan ketiga.
Ketika Ibu Pendeta menyebutkan nama lengkap anak di urutan pertama (catatan prosesi pembaptisan itu dilakukan dengan menyebutkan nama lengkap anak dengan tegas dan sedikit penekanan pada nama itu sendiri), tidak ada yang bereaksi walaupun nama anak di urutan pertama itu berbau “Barat”, mungkin udah biasa kali ya
Anak urutan kedua, juga tanpa reaksi apa-apa
Ketika menyebutkan nama anak saya ‘BADAI UFUK TIMUR PURBA’ dibelakang kami terdengar gemuruh suara jemaat yang terusik perhatiannya. Ada yang bertanya ‘Siapa tadi dibilang?’ karena mungkin kurang jelas atau malah ingin menegaskan apa yang di dengar barusan gak salah dengar, tapi ada juga yang memuji ‘Keren ya namanya’
Untuk waktu-waktu selanjutnya, setiap kali ada kegiatan gereja (seperti ibadah malam), saya malah jadi dikenal sebagai ‘Ini lho Bapaknya Si Badai Ufuk Timur itu’ sambil menunjukkan ekspresi kagum plus gak percaya kalo saya ‘NEKAT’ ngasih nama anak saya begitu.
Sebenarnya ada sesuatu yang mengusik saya, reaksi dari beberapa orang yang merasa aneh dengan nama “seperti itu” menunjukkan ada yang salah jika BERBEDA. Seolah sedang melihat sesuatu yang tidak biasa, seorang asing (stranger), perusak stabilitas.
Insting seperti itu sepertinya sesuatu yang masih sangat primitif, seperti sekawanan hewan yang terbang atau berimigrasi bersama. Kawanan akan mengatisipasi jika melihat ada satu yang berbeda dari warna atau ciri kawanan.
Itu artinya menjadi sama dengan yang lain adalah stablitas, menjadi sama adalah keamanan, keselamatan, mekanisme untuk bertahan hidup agar tidak punah, tapi....sangat...sangat....MEMBOSANKAN bukan?
Lagian....hari gini masih juga berpikir (sekedar) bertahan hidup, wah 2000 tahun masih juga begitu?
Evolusi dan revolusi telah membawa kita sejauh ini untuk bisa beraktualisasi diri, jadi ekspresi telah menjadi paradigma dewasa ini, stop menikmati makan sekedar ‘asal kenyang’ nikmati presentasinya, estetikanya. Setelah itu anda bersendawa juga gak apa-apa!
So, guys begitulah, secara pribadi saya harus bilang saya bangga dengan nama anak saya, bangga dengan anak saya, tanpa saya sadari dia (bagi saya dan keluarga) benar-benar selalu tampak seperti ‘hari baru yang setiap pagi muncul di timur’
Masalahnya orang selalu percaya bahwa selalu ada arti dibalik sebuah nama, ketika pertanyaan itu ditujukan ke saya, saya hanya bilang bahwa nama muncul dari ide karena ia lahir di pagi hari ketika matahari masih di ufuk timur dan badai itu sendiri karena kami semua merasa dikejutkan dengan kelahiran dia di pagi hari itu, karena 2 hari sbelumnya Bidan yang memeriksa kesehatan si jabang bayi bilang paling lahirnya 2 atau 3 hari lagi
Lebih dari itu, saya sebenarnya suka sesuatu yang datang dari Timur, hari baru selalu muncul di Timur, matahari muncul di Timur, kearifan timur, orang majus dari Timur, bintang Timur (bintang penuntun jalan), timur itu sesuatu yang spiritual.
Hampir semua orang juga percaya kalo nama adalah doa, ya setidaknya saya juga berharap begitu. Berharap anak saya ini (suatu saat nanti) menjadi pendobrak (badai) belenggu pengetahuan yang parsial yang selama ini membuat kita sulit melihat kebenaran
Jadi apalah arti sebuah nama, bagi saya awalnya dia hanya sebuah doa dan harapan tapi yang memberi arti pada nama itu nantinya adalah perbuatan, karena ketika kita menyebutkan nama seseorang maka yang kita lihat pada nama itu adalah perbuatannya.
Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam sebuah Note di akun FB admin blog ini
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar