Sebuah momentum bisa sangat menggangu, dimana semua substansi paling mendasar yang menghadirkan realita disekitar mengkondisikan untuk mengatakan sesuatu.
Perlukah itu....bahkan suara hati meragu.
Ide ini sangat sederhana...terlalu sederhana malah hingga terkesan tak berguna.
Sebagai orangtua sangat tidak bijaksana ketika lupa hari kelahiran Putrinya, percayalah itu saya !
Kaum Bapa mungkin akan membela....gak penting juga kali, ulang tahun, ulang tahun ! dang mate molo so dirayahon (Batak language), Indonesian ; gak mati koq kalo gak dirayain
Untungnya ada kaum wanita yang mengingat hampir segalanya, dan saya diberitahu istri...lewat sms.
“Hari ini Deeva ulang tahun lho....” Saya terkejut (betapa saya bisa lupa)
“Ya udah nanti kita beli kue ulang tahun kita rayain di rumah” saya balas
Dalam perjalanan menjemput ibunya (mamak sebenernya) bekerja, ia bertanya “Jam berapa nanti dirayain Bapak? Deeva nanti pake baju yang mana?”
Saya tau pertanyaannya itu tidak boleh dijawab segera....harus perlahan dengan sedikit mengulur waktu, karena ia tidak boleh dibuat kecewa secepat itu.
“Nak....nanti kita beli kue ulang tahun deeva...beli lilin yang bentuknya angka 4....biar nanti tiup lilin di rumah....tapi....kawan-kawan deeva gak kita undang kerumah” kata saya membujuk diatas motor
Dia diam.....perlahan merayaplah rasa bersalah di dalam hati saya...bapaknya
“Gak apa-apa kan nak?” saya memastikan
Dia tidak bergeming....hati saya yang semakin teriris
Saya memutuskan untuk tidak lagi bertanya....sekedar memberi ruang bagi hatinya untuk bernegosiasi dengan harapannya
Bagi kita orang dewasa situasi ini bukan apa-apa....tapi cobalah melihatnya dari sudut pandang anak-anak....sekeping momen kebahagiaan yang dia impikan bukan hal yang besar kawan....memakai gaun kesukaannya....meniup lilin di iringi lagu ulang tahun dari teman-temannya....membagikan mahkota, topeng, balon, bingkisan atau semacamnya...dia sudah bahagia...sesederhana itu saja.
Bisa dibilang itu bukan apa-apa....dia pun tidak pernah meminta ulang tahunnya dirayain sambil jalan-jalan ke Eropa (gak mau kalah sama artis kali ya)
Disitulah saya merasa gamang....menjadi orangtua ternyata gak gampang
Jangan marah sama bapak ya ‘nang* !
Itulah asa yang pertama.
Asa yang kedua,
Apapun situasi perayaannya....orang dewasa akan selalu melakukan hal yang sama, ulang tahun pernikahan mengkoreksi apa yang telah dicapai.....tahun baru meninjau ulang segala perbuatan.....termasuk ulang tahun anak...apa yang telah atau gagal dilakukan orangtuanya dalam pengasuhan
Begini, saya percaya semua orangtua pasti pernah marah pada anak...puji Tuhan saya juga begitu, demi untuk mendidik anak...demi kebaikan anak maka marah tentu saja tidak salah.
Kecuali jika marah di dasari motif yang salah
Percayalah Bapak Ibu saya juga menyadari itu belakangan....
Saya pernah marah karena anak saya ini lupa tidur siang karena main-main
Marah karena pada saat makan main-main
Marah karena gak mau mandi....karena asyik main-main
Atau Bapak Ibu pernah marah karena nilai anak di sekolah lebih rendah dibanding temannya
Marah karena tampaknya anak tetangga lebih mudah diatur daripada anak kita
Sampai kita berteriak “Bisa gak kau tu seperti sianu...si itu....kalao disuruh belajar..belajar, disuruh makan ya makan, disuruh tidur....nyanyi...eh salah, tidur!”
Ayolah Bapak...Ibu, Papi...Mami, Bunda...Pa’nda (Ayahanda ya?).....lihat, semua sumber kemarahan kita orangtua hanya karena anak kita ‘MAIN-MAIN’,
Trus?!,
Lha bukannya memang di usia anak-anak itu usia BERMAIN, jadi kenapa dimarahi.
Iya, tapi kan anak harus di didik supaya disiplin, tau yang baik dan yang buruk, anak juga harus belajar kan ? anda protes.
Setiap usia perkembangan anak memiliki tugasnya masing-masing Bapak...Ibu, jadi jangan tuntut dia untuk disiplin, teratur, nurut, kalem, diam dirumah, di usia dimana dia seharusnya bermain, sama aja kita tuntut dia menjadi orang dewasa di usia anak-anak (padahal orang dewasa pun kadang susah diatur)
Lagian siapa bilang dia (anak) tidak belajar pada saat bermain....anak bereksplorasi, berimajinasi, bermain peran, bahkan belajar mendominasi serta bertoleransi
Jadi orangtua gak boleh marah gitu? gak juga Bapak....
Silahkan Bapak ...Ibu marah jika itu memang dibutuhkan, tapi pastikan untuk memeluknya pada saat yang bersamaan
Dengan begitu dia tau, bahkan pada saat orangtuanya marah dia tetap merasa kalau orangtuanya mencintainya
Baca Juga : Badai Ufuk Timur Purba - Polemik Arti Sebuah Nama
Lanjut,
Motif kemarahan orangtua yang paling tidak masuk akal adalah....marah karena anak kita tidak seperti anak lain yang lebih ini dan lebih itu.....
Kita tidak sadar kalau kita telah membuat batasan, ukuran pencapaian yang harus diraihnya yaitu sebatas prestasi yang diraih anak-anak lain....yang bahkan kita belum tau tendensi dan orientasi minat serta bakat anak-anak kita....
Memangnya kenapa Bapak...Ibu jika nilai matematika anak kita tidak setinggi anak lain ?
Memangnya kenapa jika ternyata anak lain lah yang mendapat juara kelas bukan anak kita ?
Ayolah Bapak...Ibu...berikan keadilan pada anak-anak kita
Tidak ada yang salah dengan anak kita ketika tidak mendapatkan prestasi seperti anak lain, karena setiap anak itu unik, berbeda bakat, minat, kemampuan, potensi, orientasinya
Kita orangtulah yang salah yang mendegradasi, yang mereduksi indikator keberhasilan anak hanya pada sebagaian kecil parameter....seperti pintar nyanyai, juara kelas, jago matematika, dst...dst....
Bapak ibu pernah dengan istilah unconditional positive regard ?
Enggak?! Gak papa....gak juga hebat kalo pernah dengar..biasa aza
Kalo diterjemahkan kira-kira artinya ‘penghargaan positif (atau penerimaan diri) tanpa syarat’
Seorang anak akan bertumbuh dengan sehat jika banyak menerima cinta yang dalam pandangan anak dilihat sebagai penghargaan atau penerimaan orangtua yang tidak bersyarat
Contoh ‘Ibu akan tetap menyayangimu nak walaupun kau tidak juara kelas’ pada saat dewasa ia pun akan menerima dirinya apa adanya...percaya dunia pun akan menerimanya
Yang bersyarat
Orangtua menolak memberi selamat hanya karena si anak tidak mendapatkan peringkat yang bagus dikelas
Ketika dewasa si anak pun percaya bahwa satunya-satunya cara orang lain menerima dirinya jika ia bisa menjadi seperti yang diinginkan orang lain.
Bagaimana mungkin dia bisa mencapai banyak hal karena ia sibuk memenuhi syarat-syarat lingkungan sosial hanya agar (sekedar) bisa diterima
Walah koe John ngomongin teori, konsep yang gak nyata...mana ada orangtua yang bisa besikap seperti itu
Ada kawan (ini sedikit personal)
Dia adalah Bapak angkat saya, dia bukan filsuf apalagi psikolog, dia bukan sarjana apalagi profesor, dia hanya lah orangtua yang juga hanya ingin menjadi orangtua yang baik bagi anak-anaknya....
Suatu ketika dalam suatu pembicaraan dengannya di pinggir ladang samping rumah, ia berujar “Ai mahua gatni anggo anak jadi aha pe lang, mittor lang jadi anak diri be?!” (Batak-Simalungun language).
Versi Indonesian “emang kenapa kalau anak gak jadi apa-apa, apa dia kemudian gak anak kita lagi?!”
Bahkan orang yang berpendidikan sarjana sulit untuk menjadi sebijaksana itu kawan,....manusia biasa yang paling sabar dan paling solid kepribadiannya yang pernah saya kenal (respect to Bapak J. Purba – Alm)
Conclusion
Ayo kita para orangtua tinjau ulang motif dibalik setiap kemarahan kita pada anak...bebaskan anak-anak kita dari sekat dan keterbatasan demi pertumbuhannya dengan membebaskan pemahaman kita terlebih dahulu sebagai orangtua dari sekat dan keterbatasan cara berpikir.
Btw, judul artikel ne gak nyambung Pak Deeva ?
Begitukah.....mungkin maksud judul diatas tersirat bukan tersurat.
Begini, 1 ruang maksudnya satu keluarga, 4 hati artinya ada 4 orang individu di dalamnya dengan intensi hati yang berbeda tapi saling melengkapi dan 2 asa – menggambarkan harapan kami sebagai orangtua terhadap kedua anak kami ; Deeva Janeeta Purba (Selamat ulang tahun ‘nang ya semoga sehat dan diberkati selalu) dan Badai Ufuk Timur Purba
*panggilan untuk anak perempuan dalam budaya orang Batak
Artikel ini pertama kali dipublikasikan di akun FB admin blog ini