Skip to main content

follow us

Artikel kali ini terinspirasi dari curhatan teman tentang temannya

Ceritanya begini, beberapa waktu lalu datanglah seseorang kerumah atas rekomendasi dari salah satu teman saya, pria, masih muda. Konon kedatangannya untuk berkonsultasi tentang penulisan skripsi.

Dari cara dia berbicara (kemudian) saya tahu kalau si pria yang memperkenalkan dirinya dengan nama MS (Insial) sulit sekali fokus dan seringkali mengulang pertanyaan yang sama sampai lebih dari 3 kali.

Saya berasumsi dia ini sedang ada masalah. Naga-naganya sich masalah yang berhubungan dengan hati.

Beberapa waktu kemudian saya tahu apa yang saya duga ternyata benar, setelah teman yang merekom si MS tersebut cerita bahwa si MS udah lama diputusin sama pacarnya tanpa alasan yang jelas.

Masalahnya, sampai sekarang pun ketika secara kebetulan dia melihat mantannya itu bersama cowok lain (pula) dia langsung marah-marah...sampai di kost pun dia masih uring-uringan.

Kita semua tahu waktu adalah obat untuk segala luka dari sakit hati. Bahkan ketika anda sedang patah hati dan tidak melakukan apa-apa untuk mengatasinya, asalkan akan bertahan untuk tetap hidup waktu akan mengobati luka hati anda.

Nah, ketika masa putusnya hubungan MS dengan mantannya itu udah lama tapi MS tetap tidak bisa move on masalahnya bukan pada si mantan tapi pada diri MS.

Empat hal ini bisa saja menjadi penyebabnya

#1 Awal kedekatan karena kebetulan, merasa nyaman, jadian

Tentu saja gak ada yang salah skenario jadian diatas kecuali satu hal, MS tidak mendapatkan pengalaman ‘sengaja melakukan pendekatan dengan cewek’.

Lebih parah lagi jika jauh sebelum dekat (dulu) dengan mantannya sekarang MS bahkan tidak pernah punya pengalaman PeDeKaTe apalagi nembak cewek

Yang membuat pengalaman ‘kebetulan bisa dekat’ inilah satu-satunya jalan bagi dia untuk bisa mendapatkan cewek.

Yang jadi masalah (lagi) MS sendiri (di alam bawah sadarnya) percaya bahwa pengalaman kebetulan itu tidak akan pernah datang dua kali, tiga kali.

Yang artinya (lagi) hubungan dengan si mantan itulah satu-satunya peluang bagi dia. Sakit kan ?! Gak terima kan?!

Jika ia percaya pada dirinya bahwa ia mampu mendapatkan wanita lain maka ia tidak akan begitu mati-matian untuk ‘berharap mempertahankan faktor kebetulan bisa jadian’ dengan mantannya sekarang.

Bahkan mungkin sudah berdamai dengan dirinya sendiri dan memaafkan di mantan

#2 Batas antara ‘membutuhkannya’ dengan ‘mencintainya’ itu saru

Ini bedanya, membutuhkannya karena ada ruang kosong dalam diri anda dan kehadirannya mengisi kekosongan itu. Sementaranya mencintainya untuk melengkapi hidup anda bahkan memungkinkan anda bertumbuh menjadi lebih baik lagi.

Ruang kosong di dalam diri inilah yang membuat MS begitu membutuhkan kehadiran si mantannya sekarang. Bisa jadi dalam keluarga dulunya kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian, sementara sudah menjadi kodratnya manusia butuh akan hal itu.

Nah ketika ada seseorang yang menggantikan posisi keluarga dalam memberikan perhatian dan kasih sayang maka si orang tersebut tidak akan pernah rela kehilangan sumber perhatian dan kasih sayang itu karena hal itu sangat berharga bagi dirinya, sekali lagi - karena dia bisa mengisi ruang kosong di dalam diri tadi

#3 Harga diri dalam persaingan mendapatkan si dia

Saya mungkin tidak berasumsi MS mengalami hal yang ketiga ini. Tapi point ketiga ini juga seringkali membuat seseorang tidak pernah rela kehilangan seseorang yang ‘konon begitu dicintainya’ padahal yang terjadi harga dirinya hancur ketika mengetahui dirinya bukan pemenang dari persaingan mendapatkan si dia.

Berpalingnya si cewek dari suatu hubungan yang sudah dibina mengatakan bahwa anda (ternyata) tidak lebih hebat dari rival-rival anda ketika bersaing mendapatkannya. Harga diri anda hancur, sakit!

Jika satu diantara ketika hal diatas terjadi pada diri MS sudah membuat MS sulit menerima kenyataan bahwa mereka sudah berpisah. Apalagi ketiga-tiganya terjadi dalam dirinya, lebih sulit lagi.

Kesimpulan

Masalah dalam diri kita yang bisa saja datang dari lingkungan kita, keluarga kita, cenderung kita proyeksikan keluar, khususnya dalam relasi dengan lawan jenis. Jika hubungan baik-baik saja maka kehadirannya benar-benar jadi solusi masalah yang kita bawa tapi ketika hubungan tidak berjalan baik bagian dari diri kita yang rapuh tadi pun tampak jelas kepermukaan.

Jadi jangan terburu-buru menjust bahwa si mantan lah yang salah, yang telah menghancurkan diri anda, sejatinya dia hanya menunjukkan siapa dan bagaimana diri kita yang sebenarnya.

Keep move on !

Pembaca : Lha, katanya 4 bang....koq cuma ada 3 ??!!

Saya : Hehehehe....tadinya rencananya gitu...tapi waktu nulis lupa yang ke-empat jadi ya gitu dech....boleh tu yang ke-empat di isi dengan pengalaman pembaca sendiri...weka..weka..weka....kaburrrr !

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar