Skip to main content

follow us

“....ke depan, pendekatan bisnis merupakan bagian dari ekspresi relationships. Tentang percakapan antar individu, yang satu sama lain sudah saling mengenal dan saling percaya. Berada dalam lingkaran kelompok dilingkup selektif, yang unik dan spesifik”.

Beberapa waktu terakhir ini saya sedang semangat-semangatnya ingin membangun dan mengembangkan blog ini dengan serius. Dari nol. Karena dari awal blog ini sebenarnya diperuntukkan untuk belajar ‘ngeblog’, termasuk belajar membeli domain. Itulah kenapa blog ini sudah di costume domain.

Karena saya telah berjanji ke diri saya maka tidak boleh ada alasan untuk tidak update artikel, semampu saya tentu saja. Namun membangun blog - seperti kita tau - tidak melulu tentang menulis dan posting artikel. Membangun blog itu juga membangun relasi karena blog butuh pemirsa.

Seperti kehidupan dunia offline, dunia online pun kurang lebih sama. Medianya aja yang berbeda. Dibutuhkan silaturahmi untuk membangun relasi melalui ‘blogwalking’, yang artinya jalan-jalan ke blog orang lain untuk berinteraksi melalui komentar atau fasilitas komunikasi lainnya.

Emang ada gunannya?

Yee...ya iyalah Abang, banyak manfaatnya. Misalkan melihat blog kawan selalu update artikel saya juga terbakar semangatnya untuk bisa seperti mereka, melihat semangat kawan yang tetap tinggi walaupun permohonan akun adsense belum disetujui Google saya pun terinspirasi dari sikap mereka yang sabar dan tetap update artikel di blognya

Lebih dari itu saya pun merasa memiliki teman-teman baru yang se-profesi (saya koq ya percaya ya...blogger itu tidak lama lagi akan dianggap sebagai profesi) dan se-hobby. Karena interesnya sama otomatis komunikasinya juga nyambung coy.

Yang lebih penting lagi, blog ini pun mulai menunjukkan kehidupan sejak itu. Perlahan trafiknya pun mulai bertumbuh secara signifikan. Belum banyak memang tapi semua upaya yang saya lakukan (update artikel, blogwalking dan yang lainnya) menunjukkan korelasi yang signifikan dengan jumlah pageview blog ini.

Kapan masuk ke judulnya sich Bapak!? 

O iya maaf...maaf, pengantarnya kepanjangan.
Note : Berhubung sudah banyak yang membahas tentang aspek teknisnya mengenai blogwalking maka saya tidak ingin mengulas hal yang sama. Jadi walaupun judulnya mengarah ke maksud yang sama seperti artikel yang lain, yang ingin saya bahas disini adalah tentang aspek personalized dan humanize dalam kegiatan blogwalking.
Oalah...Bang...Bang...judulnya artikelnya aja gak ngerti maksudnya apa.

Sama kalo gitu saya juga gak ngerti....enak aja kedengarannya kalo dibaca
Kira-kira maksud judul diatas gini : Apakah nilai yang mendasari kegiatan blogwalking yang membuat aktivitas blogwalking tetap bertahan / tetap relevan sebagai bagian dari konsep pengembangan bisnis (blog) ke depannya.
Ceritanya sehari yang lalu ketika mencari bahan untuk artikel saya menemukan sebuah ulasan tentang fakta riset yang bisa menjadi penyebab kegagalan bisnis online di masa depan.

Era evolusi digital memang diakui telah mengurangi penetrasi media-media mainstream secara masif. Karena urusan menjangkau pemirsa dewasa ini sudah tidak bisa lagi di klaim dan di monopoli bahkan oleh sebuah Brand yang sudah ternama sekalipun. Bukan perkara aneh lagi dewasa ini jika kita menemukan sebuah blog personal bersanding manis dengan media besar seperti Detik, Tempo, Kompas, CNN di halaman pencarian google.

Pemirsa pun merayakan kebebasannya dalam memilih informasi yang paling sesuai dengan dirinya tanpa harus ikut trend. Brand pun semakin berkurang daya jualnya. Trust, engagement, social-circle conversation dan relevansi telah berubah menjadi paradigma dalam pendekatan bisnis dewasa ini.

Artinya telah dimulai arah pendekatan bisnis dari arus utama ke fungsi relasi yang berbasis nilai-nilai humanity sebagai basis yang mendasari transaksi bisnis

Bisnis affiliasi misalnya konsep dasarnya sejak awal - bahkan yang menjadi faktor keberhasilannya -adalah rekomendasi, semacam people to people story. Bukan lagi didominasi wacana brand story atau story behind the brand.

Seperti kata Mark Zuckerberg, “…tak ada yang lebih bisa mempengaruhi orang, selain rekomendasi dan pendapat dari teman sejawat.” Inilah kenapa pendapat family serta rekomendasi friends, peringkat skor-nya jauh lebih dipercaya daripada pendapat sebuah brand.

Bagaimana dalam konsep blogging?

Sama saja, kedekatan, penghargaan dan kepercayaan adalah nilai-nilai yang kita jadikan alasan untuk membangun hubungan dengan sesama penggiat blog, mendukungnya, mengapresiasi karyanya, membantu atau bahkan bekerjasama dengan sesama blogger hanya mungkin dilakukan jika masing-masing dari diri kita menemukan arti atas keberadaan kita sebagai manusia....dalam sikap dan persepsi blogger lain

Jadi efektif tidaknya kegiatan blogwalking yang kita lakukan (dengan menggunakan perkembangan blog kita sebagai parameternya) tergantung bagaimana kita mengusung nilai-nilai arus utama seperti menghargai, mendukung, memahami, bertoleransi serta mengapresiasi orang lain sebagai satu-satunya motif yang mendorong kita membangun relasi ketika melakukan kegiatan blogwalking.

Kenapa hal itu penting karena tanpa itu semua kita tidak bisa connect walaupun kita sudah ter-connected. Artinya, ter-connected secara digital tidak menjamin semua pesan yang dibincangkan otomatis nyambung dengan setiap individu (blogger lain) yang terhubung.

Untuk itulah beberapa periset marketing berani berujar bahwa kedepannya bukan lagi banyaknya jumlah friends dan followers yang penting. Melainkan, siapa temannya temanmu dan seberapa pengaruhnya teman-temanmu di lingkungan social circle-mu

Marketing bisnis yang mulai semakin tidak efektif sampai hari ini (tapi masih tetap dilakukan) adalah upaya meng-influence komunitas dengan men-treat-nya sebagai mass market. Yang terjadi dalam kasus ini adalah upaya memperlakukan komunitas sebagai kumpulan komoditas atau sebagai entitas yang dianggap sama rata tanpa preferensi personal.

Fakta keragaman dalam komunitas tak diperhatikan. Preferensi individu dalam komunitas tak diberi atensi. Padahal para pelaku bisnis berskala besar pun dewasa ini mulai menyadari, bahwa bisnis adalah tentang manusia, baik pembeli, pengguna, maupun konsumen, semuanya adalah manusia. Maka, aspek terpenting bisnis semestinya adalah manusianya.

Artinya lagi, semakin memahami manusia adalah tuntutan mutlak yang tak bisa dielakkan lagi mulai saat ini dan kedepannya. Pada level yang lebih tinggi dari strategi pemasaran ini harus dilakukan ‘lebih jauh’, lebih detil dan holistik. Penetrasinya harus mampu mengakomodasi makna terdalam kehidupan keseharian pemirsa, membuat hidup dan kehidupan mereka menjadi lebih berkualitas.

Segera nanti akan kita lihat bukan lagi pesan yang paling terdengar yang dianggap paling benar. Bukan yang paling nyaring, akan dianggap paling penting. Pun bukan yang tergaduh, yang dianggap paling berpengaruh. Dan bukan yang paling bising, yang bikin orang semakin menyimak dan berpaling.

Tapi human behavior yang sarat nilai yang baik, yang memberi ruang bagi orang lain, berkonstribusi membuat hidup orang lain menjadi lebih baik, membuat orang lain merasa berharga, penting dan layak. Bukankah itu yang membuat kita ingin kembali berkunjung, berkomunikasi dan terhubung dengan rekan kita penggiat blog yang lain ? Kecuali jika anda Spammer tentu saja.

Dengan kata lain, kedepan, pendekatan bisnis merupakan bagian dari ekspresi relationships. Tentang percakapan antar individu, yang satu sama lain sudah saling mengenal dan saling percaya. Berada dalam lingkaran kelompok dilingkup selektif, yang unik dan spesifik.

Bangga Menjadi Blogger !

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar