Skip to main content

follow us

Berita di media online seperti mie Ramen Jepang – hangat, bisa disajikan cepat, cita rasanya lezat, tapi secara kandungan gizi, tak bermanfaat. Sementara berita di Koran dianggap lebih bermutu, seperti hidangan steak dengan daging kelas pilihan...” Ramen Noodles Theory - Profesor Hsiang Iris Chyi

Sebelum anda protes, karena sampai beberapa paragraf di awal saya mungkin belum akan menyebut Riaubook.com, dalam konteks bahasan tentang media online lokal - berbasis portal berita - pertama di Provinsi Riau yang mendukung MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), yang berkomitmen menyajikan informasi terupdate, mengedukasi dan memberi pencerahan bagi pembaca dimana kontennya dapat dibaca dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris) 

Kita akan sampai ke sana, tapi sebelum itu mari kita samakan dulu konsep dasar pemahaman kita tentang kondisi wacana media online saat ini yang nantinya akan kita jadikan kaca mata untuk melihat potensinya ke depan.

Saya pikir kita sepakat, mari kita mulai saja.

Saya tidak berharap anda begitu saja percaya dengan kutipan pembuka artikel diatas, setidaknya tahan dulu sebelum membaca sampai pada kesimpulannya.

Pun, pada paragraf selanjutnya anda mungkin berharap menemukan data yang akan membantah teori tersebut. Sekali lagi anda (masih) harus kecewa, karena data yang kemudian anda baca justru menegaskan teori tersebut.

Ini sebagian diantaranya.

True Ventures yang merupakan pemodal Startup berita teknologi besar GigaOm – secara mengejutkan pada tahun 2015 silam menyatakan gulung tikar, beberapa spekulasi menyatakan True Ventures bangkrut.

Founder GigaOm, Om Prakash Malik menyatakan “jualan berita di media online ternyata tidak mudah. Berharap ada penghasilan dari iklan, ternyata sulit,”. Menurut Malik lagi, banyaknya jumlah audiens, tidak selalu berarti revenue bertambah. Kenyataannya cara monetize situs berita online masih bermasalah, masih sering salah kaprah.

Tren penyusutan unique visitor yang terjadi secara dramatikal pada beberapa situs berita besar seperti Business Insider, Buzzfeed, Quartz, juga Rafinery29, adalah alasan bagaimana praktisi media online merasa harap-harap cemas, mengingat yang ditinggalkan pembaca tersebut adalah media online mainstream berskala global.

Yang menyusul berikutnya adalah Mashable pada tahun 2016, mengkonfirmasi telah memberhentikan 30 wartawan dan redakturnya. The Financial Times pun sedang menghadapi kesulitan. Salon dan Buzzfeed dikabarkan juga mulai merumahkan karyawannya.

Tapi kedua media tersebut menolak mengekspos data dan angka. Alasannya pastilah tidak ingin menimbulkan chaos  di lanskap online khususnya media online yang di-monetize dengan program periklanan.

Pertanyaannya adalah benarkah sebegitu putus asanya masa depan bisnis online, khususnya bisnis portal berita di lanskap online ?

Saya ingin meninjau fenomena tersebut berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Profesor Hsiang Iris Chyi. Hasil riset Chyi tersebut mengupas tentang efek residu dari pesatnya evolusi digital yang mengubah cara orang mengkonsumsi berita.

Juga, menjadi alasan kenapa bisnis portal berita di media online bisa berhasil atau malah gagal total.

Pertama,

#1 Tren Akses Berita Gratis Vs Perceived Quality

Anda pasti sama setujunya dengan saya bahwa setelah memasuki era digital kita merayakan kebebasan untuk mengkonsumsi berita (apa saja) secara gratis (pula), tanpa menyadari ada yang salah dengan kecenderungannya.

Ada ancaman yang serius yang telah membuat beberapa kalangan khawatir sejak lama di balik tren akses berita secara ‘gratisan’ tersebut. Mereka yang disebut barisan behavioral economists, sudah seringkali berteriak bahwa label ‘murah’, semakin (terus) dipersepsikan sebagai ‘murahan’.

Dampak selanjutnya tampak pada ‘perceived quality’ dari konten yang diproduksi media online. Kecenderungan untuk menggratiskan informasi yang diprediksi akan menjadi bomerang kini semakin tampak terang benderang. Benarlah sudah kalau tren akses berita murah meriah (bahkan hampir gratis), berdampak sangat buruk bagi bisnis.

#2 Pesan Sampah (Hoax) Vs Trust

Fenomena banjir informasi sampah (hoax) di Indonesia menjadi penyebab terus merosotnya apresiasi pembaca atas kredibilitas berita via media online.

Kenyataan bahwa siapa saja bisa meng-create konten (dengan bermodalkan smartphone, gadget atau aplikasi lainnya) membuat publikasi konten tidak lagi melalui filter dan parameter. Yang terjadi kemudian terlalu banyak informasi, berita, gosip, isu, pesan, membanji dan mengepung audiens setiap hari.

Professor Chyi menyebutnya dengan istilah information surplus phenomenon. Masalah tidak hanya sampai disitu, dampak pengrusakan kepercayaan terhadap berita online ini pun masih akan terus berlanjut. Semakin mutu konten berita online tak dikelola benar, maka konten berita pun akan semakin diabaikan audiens.

#3 Advertising Vs Apps-vertising 

Makin maraknya aplikasi dan pengguna aplikasi saat ini membuat pengakses berita tidak lagi melihat media mainstream sebagai satu-satu sumber informasi, setidaknya cara mereka mengakses sudah berubah (untuk tidak mengatakan terlalu banyak pilihan), aspek periklanan pun terkena imbas tanpa pengecualian.

Tak tanggung-tanggung, sebagai ekses dari makin populernya aplikasi, konsumen media pun sibuk berkerumun di pintu aplikasi, yang platformnya dikontrol oleh Google, Apple, Facebook, Amazon dan teman-temannya.

Bagian terbaik (bagi pengguna tentunya) sekaligus terburuk (bagi bisnis, sudah pasti) tentang maraknya aplikasi ini adalah kemampuannya memangkas celah atau jarak antara konsumen (pengguna) dan konten berita yang dikonsumsi.

Peran pihak ketiga, perantara, mediator, atau makelar, yang dulu mengisi celah bisnis ini semakin tidak diperlukan lagi. Masuk akal jika konsumen begitu suka dengan aplikasi karena mampu meniadakan gangguan saat online, dan sekali lagi ini membuktikan strategi “mengepung” konsumen dengan beragam platform, format periklanan semakin tidak tepat.

Kenyataannya, semakin dikepung, semakin pemirsa mempercanggih diri, semakin terampil menghindari terjangan dan guyuran iklan. Cukup beralasan kemudian jika semakin banyak iklan yang gagal mencapai fungsi, peran bahkan kehilangan tujuan.

Apa yang di inginkan audiens ternyata bukan dikepung dari berbagai penjuru, bukan dibombardir, apalagi dieksploitir. Sebaliknya mereka berharap didengarkan aspirasinya, diakomodir ekspektasinya, diwadahi kebutuhan personalnya, diapresiasi partisipasinya dan dibuat mereka sebenar-benarnya manusia.

#4 Context Vs Content

Walaupun Sir Martin Sorell, Bos agen periklanan besar WPP, pernah berujar bahwa ke depan periklanan lebih tentang science ketimbang art, bukan berarti bahwa data menjadi kunci tunggal penentu keunggulan satu-satunya (tentu saja tanpa menapikan bahwa data, satu diantaranya).

Karena di tengah publikasi berita yang tanpa henti justru context-lah aspek yang menentuan pesan tersampaikan. Context yang dimaksud adalah tentang persepsi, relevansi, asosiasi, korelasi, interpretasi, ekspektasi dan seterusnya, yang mewadahi dan menjadi ‘isi’ sebenarnya dari content.


Walaupun substansi ini tidak tampak nyata (karena dimensinya psikologis) tapi context-lah yang menentukan apakah suatu konten akan dikonsumsi atau di eliminasi. Istilah content is King memang menjadi paradigma beberapa waktu yang lalu tapi kini context is still, the King Maker.

#5 Personal Vs Impersonal Advertising 

Dulu (sebenarnya masih sampai saat ini) periklanan (masih) identik dengan pesan impersonal, berorientasi massal, berbayar, alurnya searah dan dengan syarat dan ketentuan sebagai bagian dari kesepakatan.


Sekarang semua itu harus didefinisikan ulang. Basis periklanan semakin bergeser berbasis percakapan, di dasari kepercayaan dan berorientasi pada hasil. Makanya ada istilah personalized customization (makna tak harfiahnya adalah pelayanan yang berbasis kebutuhan personal)

Sekali lagi karena advertising bukan lagi tentang perhitungan angka. Jumlah, kesamaan atribut, atau kuantitas segmen, tak lagi bermakna potensi. Periklanan ke depan bergeser ke pesan yang diperbincangkan secara sosial, periklanan ke depan adalah bisnis relationship.

Masa dimana audiens hanya berperan sebagai “penerima pesan” sudah ketinggalan zaman. Audiens sekarang bukan sekadar kumpulan pemirsa, pembaca, bukan juga sekadar kumpulan massa kolektif apalagi sekadar kelompok sosial publik, juga bukan sekedar sebagai pasar yang ingin dibidik.

Audiens di masa sekarang lebih percaya apa yang dikatakan friends dibanding yang diklaim brands. Pendapat family lebih didengar ketimbang yang dibilang ahli. Social circle lebih dipercaya dibanding social media yang konotasinya massal dan komoditif.

#6 Akar Masalah Media Online Adalah Monetize

Salah satu karakteristik dari media online adalah moving target. Hal ini yang membuat sulit menebak secara pasti kemana arah pergerakannya. Karena kecenderungannya yang demikian, banyak yang salah membaca arah, banyak rute yang dijalani dengan salah.

Indikator kegagalan membaca kecenderungan pergerakan media online dari aspek monetize adalah fakta bahwa banyaknya jumlah klik iklan makin tak bermakna apa-apa jika tidak berbanding lurus dengan jumlah orang yang benar-benar membeli produk yang diiklankan.

Itu artinya mengklik tak lagi bisa dimaknai sebagai indikasi untuk membeli. Yang terjadi boleh jadi karena kepencet tak sengaja atau disesatkan oleh desain tampilan yang direkayasa.

Semakin menurunnya tren cost per click (CPC) adalah indikator yang harus disikapi secara hati-hati. Mengingat CPC yang makna tak harfiahnya adalah kesediaan pengiklan membayar ongkos atas iklannya yang diklik, maka kenyataan bahwa CPC semakin murah, bahkan nyaris gratis, membuktikan beriklan di media online belum menemukan caranya yang lebih efektif.

Dengan semua skeptisisme tersebut, masihkah tersisa alasan untuk bersikap optimis bahwa media online lokal masih memiliki masa depan ?

Hal yang pertama perlu disadari adalah media online tetaplah sebuah media (alat, tool) yang fungsi dan efektifitasnya tergantung bagaimana cara menggunakannya.

Yang kedua, fenomena yang disebutkan diatas hanya akan terus terjadi ketika media online, khususnya portal berita lokal enggan, bahkan menolak untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di lanskap online.

Lanjut membaca ke "Media Online, dari Riau untuk Dunia – Menakar Masa Depan Portal Berita Lokal Bag. 0.2"

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar