Saya ingat, suatu malam (sebenarnya pada malam-malam sebelumnya juga) putri saya yang saat itu berumur 2 tahun - tiba-tiba terbangun dari tidurnya dengan kondisi matanya tetap terpejam. Saya dan istri saya paham kalo itu tandanya ia pengen pip*s. Dan hanya ketika ia sudah berada di kamar mandi baru ia bisa melakukannya.
Suatu malam bahkan ia pernah protes dalam kantuknya yang tidak tertahankan "ngantuk kali deeva ma..." tapi ia tetap beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Seolah rasa kantuk yang sangat tidak tertahankan itu (karena hampir selalu ia tidak bisa membuka matanya) tidak sanggup menghalangi dirinya untuk tidak beranjak dari tempat tidur. Selalu begitu.
Pertanyaannya adalah apa yang kami (tepatnya istri saya) lakukan sehingga anak berusia 2 tahun seperti dia mampu mengendalikan dirinya untuk tidak ngompol di tempat tidur dimana anak-anak seusia dirinya rata-rata belum bisa mengontrol perilaku itu.
Seolah di alam bawah sadarnya ada suatu pesan yang sudah tersetting dan terkondisikan sebagai kode yang berasosiasi pada dua hal, yaitu "pip*s" atau "buang air kecil" dengan "kamar mandi" bukan dengan yang lain. Itulah yang benar, asosiasi selain itu tidak benar. Karena pesan itulah yang terus diterima saat kondisi otaknya pada gelombang Theta. Gelombang otak (Theta) inilah yang memungkinkan treatment tanpa sengaja ini bekerja
Awalnya saya pikir istri saya tau apa yang sedang ia lakukan / terapkan untuk membuat putri kami itu tidak ngompol di tempat tidur - padahal satu-satunya alasan kenapa dia melakukannya adalah agar tidak repot jika harus mengganti celana putri kami itu di tengah malam buta dan repotnya jika harus menjemur kasur setiap hari.
Persisnya yang dilakukan istri saya adalah mengatakan kepada putri kami itu untuk tidak mengompol di tempat tidur tapi ke kamar mandi jika mau pip*s. Tentu saja jika hanya mengatakan hal seperti itu tidak akan memberikan efek apa-apa. Yang membuat pesan itu bekerja adalah pengulangan (repetisi) dan waktu yang tepat kapan pesan itu diucapkan, yaitu pada saat putri kami baru tertidur beberapa saat dan pada saat ia seolah tampak akan terbangun selama jam tidurnya.
Untuk waktu treat yang kedua itu tidak selalu bisa dilakukan karena situasi dimana ia tampak seolah akan terbangun tidak selalu bisa didapatkan. Waktu yang paling utama adalah menjelang ia akan tertidur atau beberapa saat setelah tertidur (terkadang ibunya harus menggoyang sedikit tubuhnya untuk memastikan ia mendengar apa yang disebutkan).
Setelah beberapa hari kemudian, saya dan istri dikejutkan oleh putri kami tersebut karena secara tiba-tiba ia terbangun di tengah malam dan langsung duduk dalam keadaan gelisah. Untuk pertama kalinya terjadi karena sebelum-sebelumnya ia terbangun karena merasa gak nyaman dengan tempat tidurnya yang basah karena pip*s.
Baca juga : Reinforcement Positif Perilaku Anak Dengan Gimmick Pujian
Awalnya kami pikir putri kami itu mengigau, sampai kemudian istri saya berpikir kalau dia itu pengen pip*s. Dan ternyata benar, ia segera pip*s setelah diantar ke kamar mandi. Sejenak saya dan istri saya masih berpikir tentang kejadian itu karena sejatinya itu di luar ekspektasi kami. Artinya saya dan istri saya sendiri gak siap kalau apa yang dilakukannya selama ini ternyata bekerja.
Pada malam-malam selanjutnya tentu saja kami berdua tidak lagi heran ketika ia terbangun tengah malam dengan kondisi masih mengantuk, dan sampai beberapa lama setelah kejadian itu istri saya masih tetap mengatakan pesan yang sama sesaat setelah ia tertidur, untuk memastikan perilaku tersebut tidak tereduksi atau ia kemudian lupa dan tiba-tiba ngompol lagi di tempat tidur.
Beberapa waktu setelah itu saya pun mencari tau apa penjelasan untuk perubahan itu. Iya memang benar program toilet training sudah efektif diterapkan di usia 2 tahun tapi bahkan saya tidak pernah tau kalau bisa dilakukan dengan cara seperti itu (seperti yang dilakukan istri saya).
Seperti yang kita sebutkan diatas, penjelasannya adalah frekuensi otak yang turun pada gelombang THETA (4 hz – 8 hz) ketika anak baru tertidur beberapa saat.
Frekuensi otak akan turun pada gelombang Theta (sebenarnya dimulai dari gelombang Alpha) pada saat tidur ringan atau relaksasi dalam. Tanda-tanda gelombang otak berada pada gelombang Theta adalah napas mulai melambat dan dalam.
Gelombang Theta secara normal selalu ada pada anak-anak. Inilah kenapa anak-anak mempunyai daya imaginasi yang tinggi. Dan pembentukan karakter, peningkatan kemampuan belajar serta pemograman diri melalui sugesti paling mudah dibentuk dan dimulai pada masa anak-anak, berkat gelombang Theta tersebut.
Sebagaimana kita ketahui bahwa bayi dan balita rata-rata tidur lebih dari 12 jam dalam sehari. Artinya otak anak-anak hampir selalu dalam fase gelombang Theta dalam satu hari. Perlu diingat, gelombang Theta adalah gelombang pikiran bawah sadar. Itu juga alasannya kenapa anak-anak cepat sekali belajar dan mudah menerima perkataan dari orang lain.
Ketika kondisi otak dalam gelombang Theta, informasi yang masuk ke otak akan lebih mudah diterima dan membuat tubuh menjalankan informasi seperti yang diperintahkan otak (karena memang fungsi otak adalah mengontrol/mengendalikan seluruh aktivitas tubuh, kecuali beberapa organ yang memang dikendalikan saraf otonom).
Gelombang Theta juga dikenal sebagai “gelombang ajaib”, karena berkaitan dengan kekuatan psikis. Perasaan dekat dengan Tuhan pun disinyalir dapat dirasakan apabila seseorang dapat memasuki fase gelombang Theta. Penelitian tentang gelombang otak ini juga (khususnya gelombang Theta) yang mendasari ditemukannya "God Spot” (Titik Tuhan).
Semoga Bermanfaat.